AS Disebut Kirim 100 Bom Bunker untuk Israel Pakai Agresi ke Gaza

Estimated read time 3 min read

Amerika Serikat dilaporkan memasok setidaknya 100 bom penghancur situs spaceman slot bunker (bunker buster bombs) ke Israel yang dipakai untuk menggempur terowongan dan infrastruktur Hamas di Jalur Gaza Palestina. Masing-masing bom bunker ini berbobot sekitar 970 kilogram. The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan ratusan bom bunker berukuran besar ini merupakan bagian dari bantuan senjata yang diberikan AS kepada Israel selama agresinya berlangsung ke Palestina sejak 7 Oktober lalu.

Sejauh ini, sejumlah pejabat AS mengatakan kepada WSJ bahwa Washington telah memberikan puluhan ribu senjata dan artileri ke Israel untuk membantu memberangus Hamas di Jalur Gaza. WSJ memaparkan AS setidaknya telah mengirimkan sekitar 15.000 bom dan 57.000 peluru artileri ke Israel tak lama setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober terjadi. Serangan Hamas ke Israel itu menjadi pematik agresi brutal Tel Aviv ke Jalur Gaza yang berlangsung hingga hari ini.

Para pejabat AS juga menuturkan Israel menggunakan bom yang dipasok AS dalam serangan terhadap kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara. Serangan itu menewaskan lebih dari 100 orang. Sementara itu, koresponden Al-Jazeera Heidi Zhou-Castro melaporkan bom bunker ini juga pernah dipakai AS dalam perang di Afghanistan, Irak, dan Suriah. Sebagian besar bom digunakan di wilayah terbuka.

Baca Juga : Pencuri Menyamar Jadi Manekin untuk Rampok Mal, Akhirnya Tidak Terduga

“Sekarang Israel menggunakan bom-bom ini di lingkungan yang sangat berbeda di Gaza, yaitu pada populasi sipil dengan padat penduduk,” ujar Zhou-Castro seperti dilaporkan Al-Jazeera. Zhou-Castro menilai laporan WSJ tersebut memicu pertanyaan kepada Kongres AS dan Gedung Putih apakah memasok bom bunker yang tingkat kerusakannya dahsyat ini ke Israel adalah langkah yang tepat.

Sebab, penggunaan bom semacam itu di Jalur Gaza dikhawatirkan dapat memicu kerusakan yang lebih luas dan brutal lagi di wilayah tersebut. Sejak 7 Oktober lalu, agresi brutal Israel ke Palestina telah menewaskan lebih dari 15 ribu orang, termasuk lebih dari 6 ribu anak-anak dan 4 ribu perempuan. Jumlah korban tewas agresi Israel di Gaza ini sudah melebihi jumlah korban meninggal dunia invasi Rusia ke Ukraina sejak Februari 2022 lalu.

Saat ini, Israel juga kembali menggempur Jalur Gaza menyusul masa gencatan senjata yang telah berakhir tanpa ada kesepakatan perpanjangan lagi dengan Hamas. Israel menuding Hamas melanggar kesepakatan sehingga ogah memperpanjang gencatan senjata lagi.

Qatar Sebut Operasi Militer Israel di Gaza Persulit Upaya Mediasi

Qatar menyebut operasi militer Israel di Gaza mempersulit upaya mediasi antara Israel dan Palestina. Qatar menyatakan penyesalan mendalam atas ‘agresi Israel’ baru-baru ini ke Gaza setelah gencatan senjata berakhir. “Pemboman yang terus berlanjut di Jalur Gaza pada jam-jam pertama setelah berakhirnya gencatan senjata mempersulit upaya mediasi dan memperburuk bencana kemanusiaan di Jalur Gaza,” kata Kementerian Luar Negeri Qatar dalam sebuah pernyataan pada Jumat (1/12), seperti dilaporkan CNN.

Qatar memainkan peranan penting dalam negosiasi antara Israel dan Hamas. Dalam pernyataan serupa, Qatar berjanji akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk memulihkan ketenangan. Kemenlu Qatar mengatakan, negosiasi antara Palestina dan Israel terus berlanjut dengan tujuan untuk kembali ke keadaan gencatan senjata. “[Kami menuntut] gencatan senjata segera dan memastikan aliran konvoi bantuan dan bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan dan tanpa hambatan, dengan cara yang memenuhi kebutuhan aktual penduduk Jalur Gaza,” tambah mereka dalam pernyataan.

Situasi Gaza kembali panas segera setelah gencatan senjata berakhir. Al Jazeera melaporkan, jet-jet tempur Israel mulai meramaikan langit Gaza. Kendaraan militer Israel pun melepaskan tembakan ke barat laut Gaza. Beberapa outlet berita Palestina melaporkan suara tembakan dan ledakan terdengar di utara Gaza. Kesepakatan gencatan senjata dimulai pada 24 November 2023. Gencatan senjata terus diperpanjang dan berakhir pada Jumat (1/12).

You May Also Like

More From Author