Banjir Demak Disebut Jadi Isyarat Kemunculan Selat Muria, Ini Kata BRIN

Banjir melanda Kabupaten Demak dan sekitarnya pada Selasa 19 Maret 2024. Jalur lalu lintas di kawasan hal yang demikian sempat lumpuh total dampak jebolnya tanggul Sungai Wulan, malah ketinggian air mencapai 1,5 meter.

Baru-baru timbul isu banjir Demak disebut-ucap berhubungan dengan kemunculan kembali Selat Muria. Selat Muria sendiri adalah selat yang pernah ada dan menguhubungkan Pulau Jawa dan Pulau Muria.

Melainkan Badan Riset dan Kreatif Nasional (BRIN) mengungkapkan, momen banjir besar di Demak hingga Kudus tidak ada kaitan dengan isyarat kemunculan kembali Selat Muria.

Peneliti Sentra Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Eko Soebowo menerangkan bahwa banjir yang terjadi murni dampak alam dampak kondisi cuaca ekstrem.

\\\”Cuaca memang ekstrem dan daerah aliran sungai di kawasan sana tidak kapabel menampung volume air hujan yang tinggi sebab terjadi sedimentasi,\\\” ujar Eko dikabarkan dari Antara, Kamis (21/3/2024).

Eko mengungkapkan, aktivitas pembabatan hutan dan perubahan tata guna lahan menjadi pemicu sedimentasi yang terjadi di sisi selatan.

Bahkan, pengambilan air tanah berlebihan membuat kawasan pesisir pantai utara mahjong slot Jawa mengalami penurunan muka tanah yang signifikan 5 hingga 10 cm per tahun.

Eko menambahkan, format mitigasi yang dapat dilakukan untuk mengeringkan kembali daratan Demak hingga Kudus adalah pemberesan tata guna lahan.

Menurutnya, kawasan konservasi dan kawasan lindung yang dulu dibuka untuk kawasan komersial dan perumahan semestinya dikembalikan lagi fungsinya sebagai zona resapan air.

Selain itu, kata Eko, aktivitas pengambilan air tanah secara berlebihan juga semestinya dikurangi dengan membangun bendungan yang berfungsi sebagai sumber air bersih bagi masyarakat setempat, seperti Waduk Jatibarang di Semarang dan Waduk Jati Gede di Indramayu.

\\\”Apakah banjir terjadi lautan lagi? Menurut pandangan kami itu tidak akan terjadi. Unsur utama jika itu (daratan) kembali menjadi selat adalah kenaikan muka air laut,\\\” tambah Eko.

Sejarah dan Penyebab Selat Muria Menghilang

Selat Muria adalah kawasan laut yang dahulunya pernah memisahkan daratan Jawa dengan Gunung Muria. Gunung hal yang demikian adalah gunung bertipe stratovolcano yang berada di pantai utara Jawa Tengah.

Dahulu Gunung Muria adalah pulau hingga abad ke-17, kawasan perairannya berubah menjadi daratan sebab endapan fluvio-marin. Daratan hal yang demikian kini menjadi kawasan Kabupaten Kudus, Grobogan, Pati, dan Rembang.

Melalui laporan pada tahun 1657 menyebutkan, bahwa endapan fluvial dari sungai-sungai yang bermuara ke Selat Muria mengakibatkan pendangkalan. Dikenal sungai-sungai hal yang demikian adalah Kali Serang, Sungai Tuntang, dan Sungai Lusi.

Dikala Selat Muria masih ada, jalurnya tak jarang diterapkan sebagai trek transportasi dan daerah perdagangan yang ramai dilewati. Selat ini menghubungkan masyarakat Jawa Kuna dengan masyarakat pulau-pulau lain.

Melansir dari Merdeka, bukti Selat Muria pernah ada rupanya dengan adanya penemuan kreatif fosil hewan laut di Web Purbakala Patiayam, Kudus. Selat ini juga pernah menciptakan kota Demak sebagai kota pelabuhan yang ramai.

Kawasan sekitar selat hal yang demikian juga terdapat sebagian pelabuhan kecil, tetapi sebab adanya konflik politik membuat komoditas yang berasal dari daerah sekitar Selat Muria beralih menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Melainkan, sebab adanya sedimentasi dan pendangkalan, kawasan hal yang demikian perlahan berubah menjadi daratan hingga dikala ini.

Melansir dari Merdeka dikala masa glasial Gunung Muria bersama dengan pegunungan kecil di Patiayam dulunya bergabung dengan dataran utama Pulau Jawa. Melainkan, dikala interglasial kondisinya menjadi berbalik.

Volume air laut yang meningkat membuat dataran Gunung Muria dan Pulau Jawa menjadi terpisahkan oleh laut dangkal yang tidak terlalu lebar. Kemudian pada abad ke-17 Pulau Muria kembali menyatu dengan Pulau Jawa.

Dikenal, bergabungnya kedua pulau hal yang demikian sebab adanya pendangkalan dan perkembangan daratan alluvial di sepanjang pantai utara Jawa. Dikala masih menjadi selat, daerah ini dikenal sebagai trek perdagangan dan transportasi yang ramai.

Selat hal yang demikian menjadi jalan untuk masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa dan di pulau-pulau lainnya. Dahulu masyarakat yang berharap bepergian ke Kudus atau Demak semestinya mengaplikasikan transportasi kapal.

Melansir dari Undip Selat Muria semakin dangkal sesudah abad ke-17 dan kapal tidak dapat berlayar mengarunginya. Melainkan perahu-perahu kecil masih dapat mengarungi Selat Muria dari Demak hingga Juwana dikala musim hujan.

Pada tahun 1996, seorang peneliti bernama Lombard menerangkan bahwa ada air laut dari Selat Muria yang masih tersisa hingga kini. Air hal yang demikian terperangkap di dataran Jawa dan dikenal dengan Bledug Kuwu.

Menghilangnya Selat Muria konon menjadi kemunduran untuk Kerajaan Demak yang pernah berjaya pada masa silam. Pasalnya, pendangkalan di Selat hal yang demikian menciptakan Demak yang berada di tepi Selat Muria berubah menjadi kota yang dikelilingi daratan.

Dikala ini, masyarakat cemas jika Selat Muria akan terbentuk lagi sesudah terjadi banjir bandang yang melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Demak dan Kudus.

You May Also Like

More From Author