Gus Baha: Masa Lalu Kita yang Buruk Tidak Usah Disebutkan, Bahaya

Ulama zuhud asal Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam sebuah pengajian menegaskan bahwa semua manusia punya masa lalu, termasuk soal maksiat dan lainnya.

Bila hal ini diceritakan, atau terhinanya dibuka-buka justru tidak baik, malah akan jadi bahaya. Agar kau tahu alasannya, untuk masa lalu kita yang buruk itu tidak usah diceritakan kepada orang lain,” ujar Gus Baha seperti yang diunggah di Youtube channel, @solusi hidup.

Menurut Gus Baha, sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW, “Qullu Ummati Muafan illa Mujahirin” yang artinya, “Seluruh umatku akan diampuni selain yang menonjolkan dosanya secara terang-terangan” [HR. Bukhâri, no. 6069; Muslim, no. 2990].

Nah, yang termasuk kelompok mujahirin atau menonjolkan dosanya secara terang-terangan yakni orang yang menyebutkan lagi dosa-dosanya yang sudah lampau.

Orang Menutupi Salah Malah Dimaafkan

Jarang kita temui kenalan, sahabat, saudara atau malah kita sendiri yang dikala berkumpul pasti bercerita perihal masa lalu. Kala, yang terjadi yakni semacam lomba menyebutkan terhina masa lalu yang paling bejat.

“Seluruh itu dimaafkan selain yang menonjolkan salahnya dosanya. Jadi nggak boleh jika sampean sekolah bonus new member 100 di depan nggak naik kelas cerita, seperti jika ditanya Bapak dahulu pinter nggak, jawab saja oh pinter sekali, semestinya bilang gitu,” kata Gus Baha mencontohkan dikala mendapat pertanyaan dari buah hatinya.

“Aku acap kali diparani orang yang ingin tobat bercerita saya dahulu acap kali main perempuan acap kali mabuk sebab ini orang lazim tidak terima,” tambah Gus Baha.

“Tapi saya bilang gini, kau jangan cerita ke buah hati kau terus ia cerita tetapi kan saya semestinya jujur sebab ilmunya ia baru jujur itu penting,” ujarnya.

“Sesudah itu saya nyari-nyari, kini termasuk kitab itu kok dapat orang yang mujahirin, orang yang menutupi salahnya malah dimaafkan yang cerita jujur pernah salah malah tidak dimaafkan,” ucapnya.

Konsepnya Allah Nggak Menyukai Maksiat Disebutkan

Gus Baha kembali mencontohkan, semisal seorang bapak cerita semisal, dikala muda menyenangi cium orang, buah hatinya semestinya suatu dikala akan puber jika yang cerita itu ribuan khawtirnya inijadi koreksi. “Maksiat kok dibetulkan,” ujarnya.

“Alasan-alasannya Imam Ghazali itu paling masuk nalar, ini yakni Al mujahar sebab Allah itu nggak menyenangi maksiatdiperlihatkan. Seluruh cerita maksiat, akibatnya maksiat dianggap lazim saja,” ungkapnya.

“Jadi jika semua orang cerita zaman mondok badung itu artinya semua orang yang mondok badung. Tapi jika semua kiai sok suci atau suci betul dan semoga ya suci betul kan yang maksiat ini enggak punya alasan sebab masternya enggak pernah maksiat,” tegasnya.

Dia kembali menegaskan bahwa konsepnya sebab Allah itu nggak menyenangi jika maksiat diceritakan, maka tidak perlu tiap-tiap orang jujur menyebutkan masa lalunya.

You May Also Like

More From Author