Himbauan Indofarma Ungkap Gaji Staf Sampai Komisaris Yang Akan Tertunda

Manajemen PT Indofarma Tbk (INAF) memaparkan status pembayaran gaji karyawan per bulan yang tertundak sampai kini terhadap Bursa Efek Indonesia (BEI).

Adapun BEI meminta sejumlah penjelasan terhadap manajemen Indofarma, salah satunya mengenai keadaan operasional terupdate dan kinerja keuangan Perseroan. Mengutip keterbukaan info ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (9/6/2024), Direktur Utama PT Indofarma Tbk, Yeliandriani memperkenalkan, status pembayaran gaji karyawan Januari-Mei 2024 belum bisa dibayarkan secara penuh namun dibayarkan dengan kebijakan grafasi layak levelisasi karyawan.

Gaji karyawan yang tertunda untuk jenjang staf (BoD-4) sebesar 10 persen dari Februari-Mei 2024. Kemudian jenjang asistan manajer (BoD-3) sebesar 30 persen pada Februari-Mei 2024, lalu jenjang manajer (BoD-2) sebesar 40 persen pada Februari-Mei 2024. Sementara freshnytrees.com itu, general manager (BoD-1) sebesar 50 persen dari Januari-Mei 2024. Direksi, komisaris, dan organ komisaris sebesar 50 persen dari Januari-Mei 2024.

Kecuali itu, Yeliandriani menuturkan, keadaan operasional terutamanya produksi obat saat ini dengan keterbatasan modal kerja, Perseroan hanya konsentrasi pada produksi untuk pemenuhan kontrak dari pemerintah.

Seiring tidak optimalnya kinerja operasional sebab modal kerja yang dimiliki sungguh-sungguh terbatas menyokong Perseroan membukukan kerugian bersih.

PT Indofarma Tbk meraup penjualan bersih Rp 445,70 miliar sampai September 2023. Penjualan perseroan turun 50,7 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp 904,89 miliar.

Perseroan catat rugi yang bisa diatribusikan terhadap pemilik entitas induk naik 4,69 persen menjadi Rp 191,69 miliar sampai kuartal III 2023 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 183,11 miliar.

“Modal kerja yang sungguh-sungguh terbatas mengakibatkan tingkat produksi yang tidak maksimal pada Perseroan dan tidak tersedianya cukup produk yang dipasok oleh principal di entitas anak,” tulis Yeliandriani.

Lakukan Optimalisasi
Perseroan mengungkapkan telah melakukan optimalisasi dan efisiensi pengeluaran (tarif) namun tingkat efisiensi yang dibuat tidak maksimal mengingat beberapa besar bagian tarif yaitu fixed cist, seperti tarif pegawai dan depresiasi fasilitas dan mesin produksi.

Berkaitan dukungan pemerintah atas keadaan keuangan Perseroan, Yeliandriani menuturkan, via pemegang saham seri B (PT Bio Farma) memberikan dukungan dalam bentuk share holder loan untuk membiayai proyek-proyek yang didapatkan Perseroan dari pemerintah.

“Di samping hal tersebut pemegang saham seri A (Kementerian BUMN) telah membentuk project management office dengan menunjuk konsultan bisnis untuk restrukturisasi keuangan maupun bisnis,” tulis Yeliandriani.

Di sisi lain, Indofarma juga menjelaskan perkembangan progres Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Yeliandriani menuturkan, permohonan PKPU yang dimohonkan oleh PT Foresight Global telah diputus oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan amar putusan menerima dan mengabulkan permohonan PKPU untuk seluruhnya, sehingga masuk ke PKPU sementara.

Pada 5 Mei 2024, Perseroan mengajukan perpanjangan masa PKPU Sementara selama 60 hari, dan menurut surat dari Tim Pengurus PT Indofarma Tbk Nomor 015/TP-INAF/V/2024 pada 8 Mei 2024 memberikan persetujuan perpanjangan menjadi PKPU konsisten selama 47 hari.

“Berikutnya upaya yang akan dilaksanakan yaitu menawarkan terhadap kreditur proposal penenteraman,” tulis ia.

Adapun proposal penenteraman saat ini dalam progres penyusunan oleh Tim Perseroan bersama konsultan bisnis dan konsultan hukum.

You May Also Like

More From Author