Kisah Miris Pengungsi Gaza; Tidur di Kandang Ayam dengan Hawa Dingin dan Serangga

Estimated read time 2 min read

Lima keluarga pengungsi Gaza terpaksa berdiam waktu di sebuah peternakan ayam, saat nyaris dua juta warga mengungsi dari tempat tinggal akibat pengeboman Israel dan mencari pemberian di kota perbatasan Rafah. Para pengungsi itu kudu duduki kandang ayam yang terbuat dari beton. Di dalamnya, kandang baterai atau kandang ayam petelur diubah menjadi daerah tidur bertingkat.

Israel udah membombardir Gaza sejak Oktober 2023. Gempuran itu menewaskan setidaknya 27.840 orang dan menyebabkan 67.317 lainnya luka-luka. Operasi militer yang dilancarkan Israel sesudah serangan lintas batas Hamas terhadap 7 Oktober lantas menewaskan sekitar 1.139 orang, belum terhitung sekitar 250 lain yang disandera.

Lebih dari 85 % penduduk Gaza—sekitar 2,3 juta orang—terpaksa meninggalkan rumah. Ada sekitar satu juta orang yang berbondong-bondong ke Rafah, kota yang letaknya jauh di perbatasan Mesir. Kebanyakan dari mereka kudu menghuni tenda-tenda yang sesak di lahan kosong maupun petak-petak di pantai.

Satu dari lima klan besar yang mengungsi ke sana adalah keluarga Hanoon. “Kami tinggal di daerah parlay yang diperuntukkan bagi hewan,” kata Ummu Mahdi Hanoon sambil berdiri di pada kendang, dikutip dari Reuters. “Bayangkan seorang anak tidur di kandang ayam.”

Tinggal di peternakan ayam mulai seperti titik rendah di hidup mereka. Ummu mengeluhkan ‘rumah’ anyarnya yang terlampau buruk. “Air merembes ke tubuh kami. Hawa dingin terlampau gawat bagi anak-anak, bagi orang tua, bagi mereka yang sakit,” kata dia. “Terkadang kita menghendaki pagi tidak datang.”

Putra Ummu, Mahdi, mengatakan mereka di awalnya menghuni lingkungan Sheikh Radwan di Kota Gaza, sebuah daerah yang menjadi sasaran serangan militer Israel terhadap awal perang. Risiko kontak senjata dan penembakan memaksa mereka pindah ke Az-Zawayda di Kegubernuran Deir al-Balah.

“Kami mencari daerah lain, namun tidak dapat menemukannya dikarenakan jumlah kita banyak. Lalu seorang kenalan, rekan sepupu saya, memberi paham aku tentang peternakan ayam dengan kadang di Rafah,” katanya.

Baca Juga: https://bonemarrowdonationnow.net/somalia-negara-paling-korup-di-dunia-versi-transparency-international/

Niat mengungsi di kandang ayam itu awanya cuma untuk sebagian hari. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka kudu menerima kenyataan dan tinggal di sana lebih lama. “Awalnya kita kesulitan. Ada serangga. Kami miliki anak,” ucapnya.

Keluarga pengungsi itu menjadikan kerangka kandang logam sebagai daerah tidur. Ada kalanya mereka memasak roti dengan kompor logam di lantai, itu pun saat menemukan tepung. “Sulit untuk tinggal di daerah seperti ini, daerah yang dirancang untuk ayam dan burung,” kata Mahdi.

You May Also Like

More From Author