KPK Panggil 6 Orang Saksi Terkait Kasus Dugaan Korupsi Rumah Dinas DPR

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil sejumlah saksi berhubungan kasus dugaan korupsi proyek perabotan rumah dinas DPR RI. Salah satunya adalah Koordinator pengawas pelaksanaan rumah dinas DPR di Ululjami, Jakarta Selatan, Andri Wahyudi.

\\\”Hari ini bertempat digedung Merah Putih KPK, Tim Penyidik menjadwalkan pemanggilan dan pemeriksaan saksi,\\\” kata Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri dalam keterangannya, Senin (18/3/2024).

Ali menyebut selain Andri, beberapa saksi lainnya juga dipanggil Komisi Anti rasuah yang menyebabkan kerugian negara atas korupsi tersebut senilai Rp120 miliar.

Di antara para saksi tersebut adalah petinggi dari pihak swasta sampai sipil, di antaranya.

1. Aramdhan Omargandjar (Head of Enterprise Business Team/ PT. Samsung Electronic Indonesia (2019-2021)

2. Ariel Immanuel A. M. Sidabutar (Direktur PT. Abbotindo Berkat Bersama)

3. Budi Asmoro (Direktur Utama PT. Wahyu Sejahtera Berkarya)

4. Andrias Catur Prasetya (Project Manager PT. Integra Indocabinet)

5. Anita Emelia Simanjuntak (Ibu Rumah Tangga)

Dalam penyelidikan KPK atas kasus korupsi pengadaan perabotan rumah tangga mahjong ways 3 yang menyeret Sekertaris Jenderal (Sekjen) DPR RI, Indera Iskandar menempuh ratusan miliar. Alhasil negara rugi sampai puluhan miliar.

\\\”Kurang lebih Rp120 miliar nilai proyeknya. Tapi kerugian keuangan negaranya ada puluhan miliar sementara ini,\\\” ungkap Ali.

Rumah Dinas DPR di Kalibata dan Ulujami

Ali menyebut pengadaan perabotan rumah dinas DPR yang dikorupsi berada di kawasan Kalibata, dan Ulujami.

\\\”Betul betul, jadi ada dua, untuk pengadaan peralatan rumah jabatan member DPR RI baik yang di Kalibata ataupun Ulujami,\\\” sebut Ali.

\\\”Jadi untuk pengadaan rumah dinasnya, peralatan ruang tamu, ruang makan, peralatannya, meja dan lain-lain,\\\” sambungnya.

Modus Kasus
Sejauh ini sudah ada beberapa perusahaan yang diduga terlibat dalam kasus tersebut yang adalah pihak pelaksana.

Modus yang digunakan juga dengan sistem bukan memakai nama perusahaan itu sendiri.

\\\”Salah satu modusnya kan kemudian ada yang pinjam bendera, kemudian formalitas dalam pelaksanaan-pelaksanaan itu,\\\” jelasnya.

 

You May Also Like

More From Author