Retno Marsudi Bahas Cara Menyelesaikan Konflik di Oslo Forum 2024

Estimated read time 3 min read

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi terhadap Selasa, 11 Juni 2024, kunjungan kerja ke Oslo, Norwegia, untuk menghadiri Oslo Forum 2024. Tahun ini Oslo Forum mengangkat tema “mediation against all odds”, atau “mediasi di tengah kondisi yang serba sulit.” Menurut Retno, tema ini amat relevan di tengah meningkatnya konflik dan perang di dunia, antara lain di Gaza dan Ukraina.

Bahas Cara Menyelesaikan Konflik di Oslo Forum 2024

Oslo Forum adalah forum tahunan yang ditunaikan oleh Norwegia, dimana para mediator dan negosiator berasal dari berbagai negara diundang. Tahun ini merupakan keempat kalinya Indonesia diundang ke Oslo Forum, yang didasari pertimbangan peran aktif yang terus dimainkan Indonesia,
baik untuk isu Myanmar, Afghanistan, maupun Palestina.

Pada peluang itu, Retno beroleh kehormatan untuk berdiskusi dalam satu panggung di bagian utama forum, yaitu di opening plenary, dengan Perdana Menteri Norwegia, Presiden Somalia, dan State Minister berasal dari Qatar. Bagi Retno, peluang menjadi pembicara dalam opening plenary merupakan pengakuan terhadap peran Indonesia yang tetap aktif dalam memajukan perdamaian internasional.

Dalam diskusi itu, antara lain Retno memberikan tidak semua negara dapat menjadi mediator, tapi semua dapat berkontribusi mewujudkan perdamaian, menciptakan kondisi yang kondusif untuk perdamaian. “Jadi diskusinya, aku usulkan untuk diperluas, bukan cuma “mediation against all odds” tapi “mediation plus peace making against all odds,” kata Retno dalam info tertulis.

Jumlah konflik dan perang, bukannya berkurang berasal dari th. ke tahun, tapi justru bertambah. Tahun lantas kalau perang di Gaza tidak ada, tapi th. ini lebih berasal dari 36 ribu orang terbunuh di Gaza. Dan nyaris separuhnya adalah anak-anak. Upaya untuk raih perdamaian tidak mudah.

Retno menilai terkadang, pihak yang berkonflik tidak mengidamkan atau belum mengidamkan berdamai. Mereka beranggapan kalau berdamai bermakna menyerah. Oleh dikarenakan itu, semua pihak, khususnya pihak-pihak yang berkonflik harus diyakinkan untuk meninggalkan pendekatan zero sum game.

Dia memaparkan cii-ciri konflik juga jadi kompleks dikarenakan terpengaruh politik domestik dan rivalitas geopolitik yang sebabkan kondisi jadi rumit. Dengan begitu, konflik biasanya berlangsung dikarenakan tersedia perbedaan terhadap suatu isu. Tetapi, jadi lama sifatnya menjadi jadi kompleks, dikarenakan tidak cuma perbedaan isu tertentu saja, tapi juga terpengaruh oleh terdapatnya politik domestik dan juga rivalitas geopolitik.

Baca Juga: Kementerian Kesehatan Rusia Umumkan Vaksin untuk Lawan Kanker Masuk Tahap Finalisasi

“Saya juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dalam engagement kami di setiap usaha untuk merampungkan konflik. Pentingnya penguatan proses multilateral untuk menciptakan perdamaian,” ujar Retno.

Sistem multilateral kala ini, sambung Retno, udah tidak dapat merampungkan konflik secara efektif. Pasalnya, mediasi tetap perlu kala yang panjang, dan sambil menunggu hasil mediasi, tersedia banyak perihal yang dapat dilakukan, contohnya untuk Palestina yaitu memperlancar dukungan kemanusian, dan menyiapkan Palestina dalam bernegara, antara lain melalui
pengakuan dan keanggotaan penuh di PBB. Dalam konteks inilah, Indonesia memberikan penghargaan kepada Norwegia yang udah mengakui Palestina terhadap 28 Mei 2024.

You May Also Like

More From Author