Survei: Mayoritas Pemilih Lebih Suka Benny Gantz Jadi Perdana Menteri Israel

Estimated read time 3 min read

Partai sayap kanan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Likud, sudah memperkecil jarak di belakang partai sentris pimpinan mantan menteri Benny Gantz, yang keluar berasal dari pemerintahan persatuan pada hari Minggu (13/6), demikianlah hasil dua jajak pendapat pada hari Jumat (14/6).

Mayoritas Pemilih Lebih Suka Benny Gantz Jadi Perdana Menteri Israel

Jajak pendapat untuk harian sayap kiri Ma’ariv dan surat kabar sayap kanan Israel Hayom, memperlihatkan Partai Likud memenangkan 21 kursi di belakang Partai Persatuan Nasional pada 24 kursi. Jajak pendapat Ma’ariv minggu lantas memperlihatkan partai Gantz capai 27 kursi, pas pada awal tahun, jajak pendapat secara teratur berada di angka 30-an.

Jajak pendapat Ma’ariv memperlihatkan koalisi yang berkuasa pas ini memenangkan 52 kursi di Knesset yang memiliki 120 kursi, melawan 58 kursi untuk partai-partai oposisi utama, dengan keseimbangan 10 kursi yang dipegang oleh United Arab List dan aliansi sayap kiri Hadash-Ta’al. Jajak pendapat Israel Hayom memasang koalisi ini pada 50 kursi melawan 61 kursi untuk partai-partai oposisi dan 9 kursi untuk UAL dan Hadash-Ta’al.

Kedua jajak pendapat selanjutnya memperlihatkan bahwa mayoritas pemilih lebih memilih Gantz sebagai perdana menteri didalam pilihan head-to-head dengan Netanyahu. Namun jajak pendapat Israel Hayom memperlihatkan bahwa jika mantan perdana menteri Naftali Bennett bergabung dengan Avigdor Liberman dan Gideon Saar, dua politisi kanan sedang berasal dari luar kubu Likud, aliansi mereka bisa mengalahkan Likud dan Partai Persatuan Nasional pimpinan Gantz.

Gantz, mantan jenderal angkatan darat dan menteri pertahanan pada pemerintahan sebelumnya, bergabung dengan koalisi Netanyahu tahun lantas sebagai wujud persatuan nasional sehabis serangan dahsyat oleh Hamas pada 7 Oktober lalu. Namun ia berulang kali berselisih dengan para menteri lain dan baru-baru ini memastikan keluar berasal dari pemerintahan. Ia menuntut Netanyahu untuk mengartikulasikan rencana strategis yang jelas untuk perang di Gaza, yang kini sudah memasuki bulan kesembilan.

Israel menutup penyeberangan penting perbatasan Rafah sehabis mengirim pasukan ke Gaza selatan terhadap awal Mei, tujuh bulan sehabis serangan gerakan Palestina Hamas di wilayah Israel. Hal ini sebabkan eskalasi konflik terburuk di Jalur Gaza di dalam sebagian dekade. Kabinet perang Israel berjanji untuk memperluas operasi di Rafah sampai mencapai tujuan yang dinyatakan untuk menghilangkan seluruh pejuang Hamas dan membebaskan sandera.

Netanyahu, yang secara luas disalahkan atas kegagalan keamanan yang terlalu mungkin terjadinya serangan 7 Oktober, sudah menolak untuk mengadakan penentuan lazim dini dan biasanya tidak akan hadapi para pemilih sampai tahun 2026 jika koalisinya dengan partai-partai pro-pemukim agama dan sayap kanan bertahan.

Menteri Ekonomi Nasional Palestina Mohammed Al-Amour terhadap Jumat 14 Juni 2024 menyebutkan Otoritas Palestina siap mengendalikan pos pengecekan Rafah di Gaza yang berbatasan dengan Mesir di hadapan pengamat internasional. Namun, ia menegaskan pasukan Israel perlu ditarik berasal dari wilayah itu.

Baca Juga: Analisis PBB Temukan Lebih dari Separuh Lahan Pertanian di Gaza Rusak

Situs berita Israel, Walla, mengutip para pejabat tinggi Amerika Serikat dan Israel, bahwa negosiasi antara Israel, Mesir, dan Amerika Serikat untuk terhubung penyeberangan Rafah terhenti. Hal ini sebab penolakan Israel untuk mengizinkan Palestina mengoperasikan situs berikut dengan langkah apa pun. “Posisi Palestina jelas, kesiapan untuk bekerja di pos pengecekan Rafah di selatan Jalur Gaza sesuai dengan perjanjian yang disepakati terhadap 2005 di hadapan pengamat internasional. Sehingga hal ini demi keperluan rakyat kita dan tunduk terhadap penarikan pasukan pendudukan Israel,” kata menteri Al-Amour.

You May Also Like

More From Author